Selasa, 04 Desember 2018

10 Contoh Puisi Pilihan dari Usmar Ismail

Usmar Ismail dan Contoh Puisinya - Sastrawan yang bakal kita kupas biodata dan misal karya sastranya ketika ini ialah Usmar Ismail. Beliau bermunculan 20 Maret 1921 di Bukittinggi, Sumatera Barat, meninggal tahun 1971 di Jakarta. Pendidikannya di AMS-A II Yogyakarta dan Sekolah Menengah Tinggi Jakarta hingga tamat (1943).

Di zaman pendudukan Jepang, Usmar Ismail mulai mencatat puisi, kisah pendek, esai, dan drama. Kemudian kegiatannya mengarah pada dunia film: dia menjadi sutradara dan mencatat skenario film, terkadang pun menjadi juri pesta rakyat film.

Pada masa pendudukan Jepang, beliau menegakkan Sandiwara Maya (awal tahun 1944) sebagai imbangan terhadap badan propaganda Pusat Kebudayaan. Sesudah Indonesia merdeka, beliau pindah dari Jakarta ke Yogya dan menegakkan majalah Tentara dan Patriot. Majalah-majalah ini pulang menjadi surat kabar harian dan majalah kebudayaan dan kesusastraan Arena. Sesudah Aksi Militer II Desember 1948, beliau yang berprofesi sebagai wartawan-politik Antara datang ke Jakarta, sempat disangga Belanda empat bulan atas dakwaan ambil unsur dalam aksi subversif.

Keluar dari tahanan beliau memperdalam pengetahuannya dalam dunia film, dengan masuk South Pacific Film Corporation. Dia pun menegakkan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini, 1950). Lalu mengekor kuliah di fakultas Theatre Arts pada University of California di Los Angeles atas ongkos Rockefeller Foundation (awal tahun 1952) sekitar delapan bulan. Kemudian meninjau Eropa Barat, khususnya Italia.

Berikut karya-karya sastranya: Tempat yang Kosong, Mutiara dari Nusa Laut (1944), Sedih dan Gembira (1948), Puntung Berasap (1950), dan Mengupas Film (1983, editor J.E. Siahaan). Sejumlah karya lainnya terdapat dalam antologi Gema Tanah Air (1949) rangkaian H.B. Jassin dan Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang (1948) rangkaian H.B. Jassin pula.




Berikut 5 contoh puisi Usmar Ismail yang bisa sobat simak.
 
 
Diserang Rasa
Apa hendak dikata
Jika rasa bersimarajalela
Di dalam batin gelisah saja
Seperti menanti suatu yang tak hendak tiba
Pelita harapan berkelip-kelip
Tak hendak padam, hanyalah lemah segala sendi
Bertambah kelesah hati yang gundah
Sangsi, kecewa, meradang resah
benci, dendam...........rindu, cinta.........

Ah hujan rinai di waktu angin
bertiup kencang memercik muka
kemudian reda............ tenang.......
Didalam mata air bergenang
Kembali harapan, kekuatan semakin nyata
Dari yang sudah-sudah, sebelum jiwa
Diserang rasa........................


Caya Merdeka
Kepada Tanah Airku

Sekali aku terbangun dalam cerkammu,
Dari dalam jurang yang gelap-hitam
Kau renggut aku hingga akar-jiwaku
Kau angkat aku membubung
Menatap wajah Suria Merdeka..............
Buta aku disorot nikmat sinar gemilang,
diseret hanyut gelora asmaramu,
kemudian kau lemparkan daku
ke pantai tiada nyata!
Telah kau remuk aku
Bersatu padu dengan sinarmu
Tak mungkin aku ‘kan surut lagi
Sampai airmu lipur cayamu dalam matiku...........
Akan mengembus angin
Dari tepi kuburku ke tiap penjuru,
Membawa nikmat Caya Merdeka ................Dan Sujudlah aku

Di hadirat Tuhanku menunggu
Putusan akhirku di dunia baka!
 
 Kita Berjuang

Terbangun aku, terloncat duduk.
Kulayangkan pandang jauh keliling,
Kulihat hari tlah terang, jernihlah falak
Telah lamalah kiranya fajar menyingsing
Kuisap udara
Legalah dada,
Kupijak tanah
Tiada guyah.
Kudengar bisikan
Hatiku rawan:
“Kita berperang ,
Kita berjuang!”
Sebagai dendang menyayu kalbu
Bangkitlah hasrat damba nan larang
Ingin ke medan ridlah menyerbu:
“Beserta saudara turut berjuang!”



Citra
Citra, engkaulah bayangan
Waktu subuh mendatang
Citra, kau gelisah malam
Dalam kabut suram

Kau dekap malam kelam
Pelukan penghabisan
Kau singkap tirai kabut
Dan selubung
Tenggelam kau jumpai
Di dalam rimba malam
Kau buka pagi baru
Senja nyawamu
Citra, kau bayang abadi
Dalam kabut fajar



Kudengar Adzan

Kudengar adzanmu diwaktu subuh
Memudja Tuhan berharap ada lindungan,
Suaramu menjebar benih jakinku tumbuh
Kali ini, engkaulah pembawa gemilang zaman
Dalam badanku lemas dingin sekudjur
Mengalir darah tjair memanas
......



10+ Contoh Puisi Pilihan Dari Ayatrohaedi

Ayatrohaedi dan Contoh Puisinya - Sastrawan sekaligus Akademisi yang tidak jarang dipanggil Mang Ayat ini mempunyai nama Ayatrohaedi. Ayatrohaedi bermunculan di Jatiwangi, Majalengka, 5 Desember 1939. Setelah menuntaskan Sekolah Rakyat di Jatiwangi (1952), Sekolah Menengah Pertama di Majalengka (1955), ia hijrah ke Jakarta melanjutkan edukasi di Sekolah Menengah Atas yang diselesaikannya tahun 1959. Setelah itu, ia masuk Jurusan Ilmu Purbakala dan Sejarah Kuna Indonesia Fakultas Sastra UI dan lulus akhir tahun 1964.

Selesai kuliah, Ayatrohaedi bekerja di Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional di Jakarta. Belum satu tahun bekerja di sana, ia dialihkan ke Mojokerto (1965 - 1966). Karena kondisi politik yang kacau saat itu, ia menyimpulkan untuk mengundurkan dari pekerjaannya itu. Tetapi, Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung menariknya menjadi pengajar di sana (1966 - 1972).

Ketika ada peluang mengikuti Pelatihan Lanjutan Linguistik dan Filologi di Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte di Universitas Leiden, Ayatrohaedi ikut program tersebut selama nyaris tiga tahun (1971 - 1973). Minatnya untuk menelaah dialektologi membawanya ke Prancis. Mula-mula tinggal di Bordeaux guna meningkatkan keahlian bahasa Prancis. Kemudian pindah ke Grenoble untuk menelaah teori dan metode riset dialektologi. Pulang dari Prancis, Ayatrohaedi melatih di Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan terus bertahan sampai pensiun tahun 2004. Beberapa jabatan yang pernah dipegangnya, antara lain, Ketua Jurusan Arkeologi (1983 - 1987), Pembantu Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) (1989 - 1994), dan Pembantu Dekan Bidang Akademik FSUI (1999 - 2000).

Kiprahnya sebagai sastrawan dibuka samasa masih SMP (dalam bahasa Sunda) dan ruang belajar satu SMA (dalam bahasa Indonesia). Cerpen kesatunya, berjudul 'Sejak Itu' yang dimuat majalah Tjerita, No. 2, Januari 1957 merupakan mula kepengarangannya dalam sastra Indonesia. Sejak itu sejumlah cerpennya dimuat pun di majalah Tjerita, Siasat, dan Mimbar Indonesia, tiga majalah sastra yang waktu tersebut sangat berpengaruh. Di samping di majalah Mimbar Indonesia dan Siasat, masih ada selama 90-an puisinya yang dipublikasikan melewati majalah Basis, Djaja, Pustaka dan Budaya, Budaya Jaya, Trio, Berita Indonesia, dan Seloka. Semua didapatkan antara tahun 1957 hingga 1978.

Ia terus mencatat esai, cerpen, dan puisi. Dua kelompok cerpennya yang keluar pada masanya ialah Yang Tersisih (1965) dan Warisan (1965). Sejumlah puisinya yang dimuat di sekian banyak  majalah semenjak tahun 1957 kemudian dikoleksi dan diterbitkan dengan judul Pabila dan di Mana (1977). Di samping itu, Ayatrohaedi pun menulis kisah anak, yakni Panji Segala Raja (1974), Ogin si Anak Sakti (1992), dan Panggung Keraton (1993). Adapun karya terjemahannya, antara lain, Puisi Negro (1976), Senandung Ombak (terjemahan novel Yukio Mishima, 1976), Kacamata Sang Singa (cerita anak, terjemahan karya G. Vildrac, 1980). 


Baca Juga:

7 Contoh Puisi Pilihan Dari Godi Suwarna



Ayatrohaedi, laksana juga sejumlah sastrawan Indonesia yang begitu peduli pada kebudayaan dan bahasa daerahnya, laksana Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, Arswendo Atmowiloto, Suripan Sadi Hutomo, Jus Rusyana, dan sejumlah sastrawan lainnya, dapat seenaknya bolak-balik mencatat dalam dua bahasa, yakni bahasa wilayah (Sunda) dan bahasa Indonesia. Maka, selain mencatat dalam bahasa Indonesia, Ayatrohaedi pun menulis dalam bahasa Sunda. Karya kreatifnya dalam bahasa Sunda, di antaranya, Hujan Munggaran (kumpulan cerpen, 1960), Kabogoh Tere (Roman, 1967), Pamapag (antologi puisi, 1972), dan Di Kebon Binatang (1990).


Nyanyian Keabadian
Hujan jatuh di luar musim
menghijaukan rumput di jalan
Hujan jatuh bersama angin
melambaikan daun di dahan
Hujan jatuh membawa dingin
menyejukkan rindu di badan
Cinta yang tumbuh setiap musim
adalah cintaku pada keabadian


1958



 

Leuwimunding
Jalannya penuh berdebu
antara sawah dan kali
antara gunung dan tegal
di bawah kilat belati
anak pulang dari kota
mengaca mayat sendiri.
Dan rindu makin menggunung
antara mata dan hati
rindu kampung kelahiran
di bawah kilat belati
melurus jalan ke makam
bawa cinta sampai mati


1958



Perempuan Malam

Dia berdiri di tikungan
karena tuntutan penghidupan
adalah bagian dari kehidupan
Dia berjalan pelan-pelan
karena kehidupan
melemparkannya ke jalanDisapanya setiap lelaki
tidak dengan hati
dibuahkannya senyuman
lantaran keadaan
Pandangnya membayangkan
napas penderitaan
Suram lampu jalan
suram hidupnya yang akan datang


1963



Situ Patenggang
Bulan tanggal duapuluh-tiga
malam ini terlambat tiba

Dari balik awan mengintip ragu:
Apakah aku akan mampu
menembus tebalnya kabut
untuk menyampaikan amanat
di tengah gerimis hujan?Air yang kemilau ditimpa cahya
memisahkan kedua ujung telaga.
Bulan yang ragu,
apakah jarak yang jauh
tak mungkin jadi dekat
jika padamu kutitipkan rindu?
Dari Situ Patenggang
terpandang jalan panjang
yang mungkin terlalu jauh
untuk bisa selesai kutempuh
Tapi di Situ Patenggang
semuanya jelas terbayang:
bayang-bayang
yang membayang
bagai bayangan
yang terbayang
bergoyang


1973



Surat Akhir Tahun
Tetap kucinta
gunung-gunung gundul
karena keyakinan
tiba saatnya
'kan kembali menghijau

Unggas yang terbang itu
'kan pulang ke sarang
bertelur dan mengeram
dalam kedamaian.
Pohon di kejauhan itu
selalu melambaikan tangan
bagi yang mengerti
arti harapan.

Ikan di kali
adalah kemerdekaan.


1961




Jatiluhur
Impian abadi leluhur
menemu bentuk. Tanah-tanah gersang
menjadi subur. Bagai disihir
air pun mengalir
lewat padang-padang hijau
menghimbau.

Sangkuriang nanar memandang:
Kerja yang terbengkalai
akhirnya selesai.
Tubuh-tubuh baja, lengan-lengan perkasa
menyusun batu demi batu
dinding telaga raksasa.
Membendung
napsu angkara manusia
yang berpusat pada: Aku,
Sangkuriang kesiangan.
Dayangsumbi membuahkan senyum
ke bumi: Inilah cintaku
pada turunan, anak-cucu
yang datang kemudian.
Tubuh-tubuh semampai, tangan-tangan gemulai
menanam benih demi benih
padang kencana.
Perwujudan ikrar
ketika menyingsing fajar.
Cintaku pada turunan
yang datang kemudian.
Impian abadi leluhur
menemu bentuk. Tanah-tanah subur
bukan lagi impian.
Tapi: kenyataan.

1969


 
Situ Gintung
Di danau ini
anak-anak alam
beterjunan
dan berkejaran
sepuas hati

Di danau ini
gerak-gerak alam
berkejaran
dan bersahutan
seindah puisi

Di danau ini
gema suara alam
bersahutan
dan bersalaman
dalam hatiku


1967



Rajagaluh*
Sebuah hutan memucuk
lewat kampung Rajagaluh
gelagah lebat memanjang
tertutup jalan ke kota
biji tarum bunga kembang
burung ngisap benangsari

Dekat tidak tentram hati
tapi besok lain lagi
rindu kampung cinta dara
tak bakal sesayang bunda
habislah tahun dan bulan
tak kujelang Rajagaluh


1958
*(dari lagu rakyat Sunda)


 


Dari Suatu Perpisahan
Terkadang ada baiknya kita berduka,
Agar terasa betapa gembira
Pada saatnya kita bersuka
Terkadang ada baiknya kita menangis,
Agar terasa betapa manis
Pada saatnya kita tertawa
Terkadang ada baiknya kita merana
Agar terasa betapa bahagia
Pada saatnya kita bahagia

Dan jika sekarang kita berpisah
Itupun ada baiknya juga
Agar terasa betapa mesra
Jika pada saatnya nanti
Kita ditakdirkan bertemu lagi



Baca Juga:

5 Contoh Puisi Puisi Pilihan Dari Buya Hamka







Indung

Iuh tanjung seungitna marganing wuyung
liuh indung perbawa nu cadu nundung
mun di dunya ngan aya indung jeung bapa
bakal bisa ngawasa sajagat raya
Ngan indung memeh miang dielingan,
“Lamun hirup ngan ngumbar karep sorangan
temahna poho ka indung
kaduhung nunggu di tuntung
nya hanjakal bakal jadi incu cikal.”


2001:88

7 Contoh Puisi Pilihan Dari Godi Suwarna

Godi Suwarna dan Contoh Puisinya - Sastrawan nyleneh Godi Suwarna merupakan penyair, cerpenis, dramawan, dan novelis kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 23 Mei. Berbagai penghargaan sastra sudah ia peroleh. Ia tiga kali ia meraih hadiah sastra Rancage untuk Blues Kéré Lauk, Serat Sarwasatwa, dan Sandékala. Godi meraih hadiah tahunan itu untuk tiga kategori sekaligus, puisi-cerpen-novel.
Godi Suwarna juga dikenal sebagai aktor andal. Kemampuan dalam berakting di panggung teater diperoleh Godi selama bergabung dengan Studiklub Teater Bandung (STB) yang dipimpin oleh Suyatna Anirun. Salah satu drama yang dibintanginya adalah drama berjudul King Lear, Sang Naga, dan Impian di Tengah Musim. Selain bertindak sebagai aktor, Godi juga piawai sebagai sutradara. Salah satu pentas yang disutradarainya adalah pergelaran puisi Konglomerat Kéré Lauk di Universitas Wollongong, Australia, pada tahun 1997.
Karya sastra yang ditulis Godi disampaikan dengan bahasa Sunda yang mengalir ibarat arus sungai deras. Hal itu terwujud karena penguasaan Godi terhadap bahasa ibu (Sunda) dan wawasan tentang kesundaan sangat luar biasa. Terkadang isi karya sastra yang ditulisnya dihiasi dengan kosakata arkais. Tidak jarang pembaca dibuat ketar-ketir dalam menyibak tabir makna di balik karya Godi. Imajinasinya yang luas, kaya, dan cenderung liar melahirkan karya yang tidak kalah eksentriknya dengan karakter penulisnya.

Penguasaan terhadap cerita pewayangan, seperti Ramayana dan Mahabarata, dipadu dengan kejelian Godi terhadap situasi negeri saat itu mampu menjungkirbalikkan peranan tokoh pewayangan dari tempat dan posisi seharusnya. Ia menginginkan Sunda dalam sastra yang peka terhadap perkembangan zaman dengan segala kompleksitasnya. Salah satu cerpennya yang bertema dunia politik, “Murang-Maring”, menghadirkan anggota dewan yang terdiri atas anggota Panakawan dan Pandawa dengan segala karakter khas mereka dan nuansa komedi.
Sejak tahun 1998, Godi Suwarna aktif menggagas acara festival kebudayaan semalam suntuk yang dinamakan Nyiar Lumar. Festival tersebut sangat unik karena diselenggarakan di hutan keramat Astanagedé, Kawali, peninggalan Kerajaan Galuh, Kabupaten Ciamis. Kesan keramat semakin terasa karena perhelatan budaya akbar itu hanya bersandar pada penerangan tradisional yang berasal dari obor, cempor, lampion, dan api unggun. Perhelatan budaya tersebut dijadwalkan setiap dua tahun sekali. Acara tersebut mengundang banyak perhatian kalangan seniman dalam dan luar negeri. Selain itu, bersama istrinya, Godi Suwarna juga mendirikan Sanggar Titik Dua yang setiap waktu terbuka bagi para peminat sastra dan seni. Berikut ini, antara lain, adalah karya yang telah dciptakan oleh Godi Suwarna.


Karya Sastra Godi Suwarna:
Kumpulan Cerpen:
Murang-Maring (1980)
Serat Sarwasatwa (1995)


Novel:
Sandékala
Deng

Kumpulan Puisi:
Antologi Puisi Sunda Mutahir
Jagad Alit (1979)
Surat-Surat Kaliwat (1984)
Blues Kere Laut (1992)
Sajak Dongeng S. Ujang (1998)Drama:
“Burung-burung Hitam”
“Orang-orang Kelam”
“Gaok-Gaok Geblek”
“Durmayuda”
“Cak Anumerta”
“Gor-Gar”

Gimana Sob, inspiring banget kan biografi hidup penyair yang satu ini, so untuk lebih memahami rangkai kata Godi Suwarna dalam mencipta puisi,


Sajak ti Jalan ka Mana
Ngémploh pucuk-pucuk entéh
Mulas léngkob jeung lamping nu keur gumiwang
Sapanjang jalan rumangsang muru hibar gebur beurang
Hawar-hawar, kahariwang dilaungkeun kawih leuweung
Sabot mipir jegir pasir jeung kaketir nangtang ringkang
Lalaunan angin rintih ngusapan lengkah guligah

Luak-léok ngitung tikungan
Kalah kérok balas nyawang pulas haté jeung langitna
Balitungan antara was-was mun nyorang lelewang jungkrang
Jeung panggupay ti palebah mumunggang gunung panungtung
Padungdengan sabot méga katémbong beuki meuleukmeuk
Samar-samar nyidem hujan jeung guludug
Beuki jauh nyusud waktu


Bet kasarung satengahing kahayang nu pasulabreng
Antara ngajuringkang ka landeuhkeun, ka sisi talaga wening
Atawa rék terus nyusul jangjang julang kumalayang nilar sayang
Humandeuar ti tetelar ka tetelar nu horéng teu matak kelar
Kalah awor jeung geuneuk kelun halimun
Ngalulungsar di totowang

Mépéndé rurungsing jantung nu gumuruh silantangan
Sanggeus lawas ngaprak mangsa ngasruk tegal alimusa
Beuki surti yén mumunggang panganggeusan ngancik dina sanubari
Ngan kari ngaragap diri nu mindeng ngaberung mangprung
Kari naker ieu ketak saméméh béakeun hégak
(Pangaléngan, 07)

Baca Juga:

25+ Puisi Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia Terbaik dan Terlengkap





Sajak Satengahing Ringkang

Hariring angin rumangsang
Ka landeuhkeun, nebak rénghap saamparan pucuk entéh
Ngahiliwir ka talaga nu kasawang kapulas lélénglang langit
Lebah dinya kulit cai tingborélak ngariak-riakkeun wanci
Bet kaambung dumalingding seungit jempling
Sungkeman lemah kahéman
Nyambuang ti lamping wening nu katémbong semu ngénclong
Aya kalbu langkung langgong tibatan kelewung gunung
Langkung hurung manan talaga nu keur gumiwang
Lalaunan ngajaulkeun lamunan ka alakpaul
But-bat jalan panineungan
Ngagurat héhéjo kebon nu nungtung di sukugunung
Kelun haseup ti rarambu leuweung pineus lain tangara balai
Ngan ukur gebur kakangen ngagupay méga kasumba
Nu ngalayang ka jabaning langit bungurKapireng kawih kamelang
Moalboa riring mojang pasisian nu keur migandrung sarakan
Ngayunambing lamping rungsing diléntab létah srangéngé
Talaga beuki gumenclang dina pepeteng jajantung
Méméh lunta muru lembur pangsingkurna
(Cileunca, 07)


Di Sapanjang Jalan Sajak

Cijapati kapiati, ngancik ‘na acining wanci
Sanggeus nilar kelun kota nu dihuru matapoé
Cunduk ka liliuh langit, ka léngkob lemah ngémplohna
Saampar gambar kakelar digelar satatungtung teuteup
Di sapanjang jalan angin ngahiliwir nepis wiring
Lapat-lapat, marakbak lembur di lebak
Bet kasawang keur anteng namperkeun jempling
Sabada gumuruh dayeuh dibendung tambakan gunung
Ukur suling nu kapireng mirig kalbu humariring
Di sapanjang jalan méga kumalayang muru layung
Nanging anjeun geuning suwung di lulurung
Teu katémbong kumolébat mapag kangen di tanjakan
Ngan gupay pucuk halimun ti kampung tungtung pudunan
Nu kapireng ngajak reureuh satengahing lalampahan
Di sapanjang jalan soré muru sisimpéning peuting
Meureun anjeun geus ngampih ka lembur bungur
Terus ngempur kahieuman handeuleum leuweung katineung
Barang ringkang kalah nyorang gelebug aweuhan mangsa
Ukur bisa sumoréang ka lamping nu geus kalarung
Di sapanjang jalan layung muru gebur bulan kayas


(Cijapati, 07)




Sajak Lawang Peuting

Trijata, cuang lawungkeun paneuteup
Ka lawangsaketeng peuting nu katembong nyangkeredong
Sanggeus mipit gurat-gurit lambaran layung panungtung
Rek labas maratkeun ketak, tuluy nyusud kingkilaban
Nu kasawang tingbarasat lir suar panuduh lampah
Trijata, cuang miang ngitung gunung
Da geuning lempagan waktu terus ngabeledig ringkang
Ti dayeuh nyedek ka kampung, milang reuma meunang lewang
Kari mereketkeun geugeut, nyingraykeun sewu rurungsing
Humariring mapag peteng sapanjang liliwung peuting
Trijata, cuang narabas halimun
Nu ngadingding mindingan lungkawing jungkrang
Metik genclang cika-cika satengahing hiuk wanci niruk mongkléng
Sugan bulan rek kasampeur ngempur di mumunggang jempling
Ngagulubur ngahibaran jalan panjang ka sagara

(Pameungpeuk, 07)



Rumpaka Gandrung

peuting ieu anjeun mah di mana teuing
sanggeus tungtung gebur layung jadi genclang lampu kafé
peuting nu kapireng jempling sareureuh tabeuh gamelan
di dieu, kapan gelas jeung anggurna baris ngalalantis kangen
basa lilin pulas kayas tinggarenyas midangkeun séwu katineung
patung déwa ukur mencrong kana botol nu moncorong
di ditu, ‘na méja nu panghieumna, sapasang rumaja pérang
keur oléng ngambéng katresnan, ngabebela ka basisir
birahina gumuruh ngaduruk ombak


peuting ieu anjeun mah ka mana teuing
padahal anginna rintih humariring nebak ti pura gumiwang
nyanding dupa dumalingding ka rohang kafé nu beuki agréng
patung déwa milu ngungun barang mireng ngaran anjeun
digalindengkeun dina rarancang sajak nu tingkalayang
diapungkeun ku pupucuk umbul-umbul nu ngabaris
‘na jejempling jalan peuting, jalan sorangeun
palangsiang ngan jalan sasoranganeun
da geuning anjeun ngahiang
peuting ieu anjeun mah duka ka mana
basa gelas nu pamungkas geus jadi sajak nu gumarabyag
ngaléntab angin sagara, basa musik mimiti ngahuru jantung
ngagolakkeun eusi hulu nu didedet ku warnaning panineungan
patung déwa nu dikeput haseup dupa jeung halimun
kapireng bet humarurung, boa pada nyidem liwung
dikemu ratusan windu, sanggeus anjeun kari petit
nu nyiriwik ‘na ruruhit ungkara rumpaka lagu
nyeuit tatu tapak waktu nyacah kalbu


peuting ieu anjeun mah boa di mana
barang mangpirang kasono ngan wasa digorowokkeun
ti rohangan ka basisir, kalah awor jeung séah laut marudah
laun-laun ieu raga karasa ngabela-bela ngarérab lalangit hangit
rumanggieung ringkang lanjung di rohang nu beuki sahéng
patung déwa kumalayang ngagugudag ka pucuk munara pura
kawas asih nu keur hurung sakedapan tuluy bencar nyilalatu
bakal rabeng panineungan lebah gedur pangabénan
isukan ukur kasampak satumpuk ruruhak sajak
 
 Gandrung Panunjung

asih kuring ka salira, jungjunan!
langkung ngempur batan gulubur purnama
nalika wengi harita ngahibaran basisir di palih wétan
waktos urang sasarengan ngagalindengkeun ungkara ombak
sagara teras marakbak ngagenclang-genclangkeun bagang
séwu parahu pamayang gumiwang di laut wening
nu mariang dijurung gending kaludeung


anging asihing salira, jungjunan!
karaos teu weléh rintih sapertos haréwos angin
humariring ngagupaykeun mangpirang pucuk katapang
pan salira nu tos ngagelar basisir janten tetelar pamedar tresna
waktos geugeut tambih meueut, katawis laut kareueut
murubmubyar guliwengan leuweung ganggeng
pangreureuhan warna-warni lauk lampar


kahéman salira pisan, jungjunan!
nu parantos ngahiruphuripkeun sagara
ringkang pamayang teu weléh manjang ti usum ka usum
da salira nu ngaréka satangkarak laut kidul janten karajaan lauk
nu ngantengkeun pareng ti taman karang ka sédong sigrong
ti lambak ka bubulakna, ti basisir ka lemburna
pangharepan baranang sabanjarkarang


mugia langgeng asih urang, junggjunan!
saban wanci sasarengan ngaheuyeuk nagri jaladri
ngageburkeun balébatna, ngahurung-hurungkeun layung
ngawurkeun roncé sulintang satengahing impénan para pamayang
nu jalengkar lapat-lapat ngolah laut tug dugi ka sukulangit
asih urang bakal mangkak di sagara, di basisir
dumalingding nyambuang ka alakpaul


(Pangandaran)
 
 
 
 
 
 
Ringkang Kangenan

ringkang anjeun kumalangkang, trijata!
di dieu, di lamping para déwata nu ngumpak ka jomantara
kapan anjeun kumolébat sakedapan lebah arakan sasajén
nyuhun janur pangempurna, luminjing dipirig gending
ngereles lebah simpangan antara pura jeung jungkrang
kebat ketak nurut-nurut tapak anjeun nu marakbak
ti lawang sakéténg beurang horéng manjang ka basisir


terus ngambung ringkang anjeun, trijata!
sapanjang undakan pura, tina kelun kana kelun haseup dupa
séséléké ‘na sesela patung déwa nu maridang disamping gringsing
lebah dieu, ukur kembang nu kasampak marangkak dina sasajén
seungitna sahiliwiran méméh tangkay dihuru waktu
“trijata, asih urang mugia langgeng dumalingding
mangka lana nyambuang di balé agung!”


mudun ka léléngkob liwung, trijata!
kumareumbing kana umbul-umbul kuning
néang anjeun sugan nganti lebah lawang guha karang
meureun keur anteng menekung namperkeun dalingding angin
sabada basisir putih gumarabyag kaléntab hégak srangéngé
lebah dieu, kalah tepung jeung lambak nu keur jumegur
nu gumuruh mapatkeun mangpirang mantra


horéng anjeun hanjat ka jojontor karang, trijata!
nincak umpakan cahaya, nanjak ka hiji pura gumiwang
ieu léngkah tuluy kandeg, létah garing balas ngagentraan anjeun
nu kasawang henang-hening di mumunggang pamujaan
riab rambut jadi layung ngahibaran runggunuk kayon karamat
“trijata, najan anjeun rék nyepén ratusan windu
ieu ringkang moal anggang ti basisir!”
(Tanah Lot)



Penelusuran yang terkait dengan Contoh Puisi Godi Suwarna
  • sajak grand prix karya godi suwarna
  • sajak black sabbath godi suwarna
  • sajak godi suwarna pendek
  • grand prix godi suwarna
  • lirik sajak grand prix godi suwarna
  • sajak lalakon abimanyu karya godi suwarna
  • lirik sajak black sabbath
  • carpon karya godi suwarna

5 Contoh Puisi Puisi Pilihan Dari Buya Hamka

Buya Hamka dan Contoh Puisinya - Untuk diketahui Sobat semua, HAMKA diberikan sebutan Buya, karena merupakan panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata Abi, Abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati. Nama aslinya sendiri adalah Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906. 

Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, HAMKA menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

HAMKA juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid). Pada 1950, ia mendapat kesempatan untuk melawat ke berbagai negara daratan Arab. Sepulang dari lawatan itu, HAMKA menulis beberapa roman antara lain Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah.

Sebelum menyelesaikan roman-roman di atas, ia telah membuat roman yang lainnya seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli, dan Di Dalam Lembah Kehidupan merupakan roman yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastra di Malaysia dan Singapura. Setelah itu HAMKA menulis lagi di majalah baru Panji Masyarakat yang sempat terkenal karena menerbitkan tulisan Bung Hatta berjudul Demokrasi Kita.

Dalam pandangannya tentang kesusastraan, Buya HAMKA menyatakan ada empat syarat untuk menjadi pengarang. Pertama, memiliki daya khayal atau imajinasi; kedua, memiliki kekuatan ingatan; ketiga, memiliki kekuatan hapalan; dan keempat, memiliki kesanggupan mencurahkan tiga hal tersebut menjadi sebuah tulisan.
 
 
Ulama, sastrawan, wartawan, editor, adalah profesi Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka).  Sebagai ulama, beberapa karya telah ditulisnya. Yang paling terkenal adalah Tafsir Al-Azhar (30 Juz), Khatib Ul Ummah (1925), Tarikh Abu Bakar Ash-Shidiq, dan Ringkasan Tarikh Umat Islam.
Sebagai sastrawan, roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah karyanya yang paling terkenal selain Di Bawah Lindungan Ka’bah, Laila Majnun, Dalam Lembah Kehidupan, dan lain-lain.
Hamka juga penulis puisi. Karyanya  lebih banyak bernuansa relijius. Dalam puisi berjudul  Nikmat Hidup, misalnya, Hamka mengingatkan tentang makna puasa, kesabaran, dan keimanan. Berikut sebagian puisi tersebut.
 




Hati Sanubari

Biarkanlah saya menyebut apa yang terasa;
Kemudian tuan bebas memberi saya nama
dengan apa yang tuan sukai;
Saya adalah pemberi maaf,
dan perangai saya adalah mudah, tidak sulit.
Cuma rasa hati sanubari itu
tidaklah dapat saya menjualnya;
Katakanlah kepadaku, demi Tuhan.
Adakah rasa hati sanubari itu bisa dijual?
 
 Roda Pedati

Nasib makhluk adalah laksana roda pedati
Ia turun dan ia naik, silih berganti

Demikian kehendak Tuhan Rabbul Izzati
Kita menunggu kadar,
kita berharap dan menanti..
 
 
 
Nikmat Hidup

Setelah diri bertambah besar
di tempat kecil tak muat lagi,
Setelah harga bertambah tinggi
orang pun segan datang menawar,
Rumit beredar di tempat kecil
kerap bertemu kawan yang culas,
Laksana ombak di dalam gelas
diri merasai bagai terpencil,

Walaupun musnah harta dan benda
harga diri janganlah jatuh,
Binaan pertama walaupun runtuh
kerja yang baru mulailah pula,

Pahlawan budi tak pernah nganggur
khidmat hidup sambung bersambung,
Kadang turun kadang membumbung
sampai istirahat di liang kubur,

Tahan haus tahanlah lapar
bertemu sulit hendaklah tenang,
Memohon-mohon jadikan pantang
dari mengemis biar terkapar,
Hanya dua tempat bertanya
pertama tuhan kedua hati,
Dari mulai hidup sampai pun mati
timbangan insan tidaklah sama,

Hanya sekali singgah ke alam
sesudah mati tak balik lagi,
Baru rang tahu siapa diri
setelah tidur di kubur kelam,

Wahai diriku teruslah maju
di tengah jalan janganlah berhenti,
Sebelum ajal, janganlah mati
keridhaan Allah, itulah tuju,

Selama nampak tubuh jasmani
gelanggang malaikat bersama setan,
Ada pujian ada celaan
lulus ujian siapa berani,

Jika hartamu sudah tak ada
belumlah engkau bernama rugi,
Jika berani tak ada lagi
separuh kekayaan porak poranda,

Musnah segala apa yang ada
jikalau jatuh martabat diri,
Wajah pun muram hilanglah seri
ratapan batin dosa namanya,

Jikalau dasar budimu culas
tidaklah berubah kerana pangkat,
Bertambah tinggi jenjang di tingkat
perangai asal bertambah jelas,

Tatkala engkau menjadi palu
beranilah memukul habis-habisan,
Tiba giliran jadi landasan
tahanlah pukulan biar bertalu,

Ada nasihat saya terima
menyatakan fikiran baik berhenti,
sebablah banyak orang membenci
supaya engkau aman sentosa,

Menahan fikiran aku tak mungkin
menumpul kalam aku tak kuasa,
Merdeka berfikir gagah perkasa
berani menyebut yang aku yakin,

Celalah saya makilah saya
akan ku sambut bertahan hati,
Ada yang suka ada yang benci
hiasan hidup di alam maya
 
 Biar Mati Badanku Kini

Biar mati badanku kini
Payah benar menempuh hidup
Hanya khayal sepanjang hidup
Biar muram pusaraku sunyi
Cucuk kerah pudingnya redup
Lebih nyaman tidur di kubur
 
 
 Hanya Hati

Gajiku kecil
Pencaharian lain tak ada
Kicuh buku aku tak tahu
Korupsi aku tak mahir
Berniaga aku tak pandai

Kau minta permadani
Padaku hanya tikar pandan
tempat berbaring tidur seorang
Kau minta tas atom
Padaku hanya kampir Matur
Kau minta rumah indah
Perabot cukup
Lihatlah! Gubukku tiris
Kau minta kereta bagus
Aku hanya orang kecil
Apa dayaku
Kekayaanku hanya satu, dik

Hati
Hati yang luas tak bertepi
Cinta yang dalam tak terajuk


Bukittinggi, 1948

Puisi yang ditulis pada tahun 1948 ini adalah salah satu kontribusi besar dalam sastra tanah air, dan secara khusus merupakan kenang-kenangan indah bagi keluarganya.  Karya-karyanya tak hanya menyiratkan kehebatan seorang sastrawan dan kealiman seorang ulama, lebih dari itu, Hamka menunjukkan dirinya sebagai  insan penuh cinta.
Pintu rumahnya selalu terbuka untuk kedatangan siapa pun yang meminta nasihat, baik konsultasi agama hingga persoalan rumah tangga. Betapa tepat sebutan ‘Buya’ (Ayah, dalam bahasa Minangkabau) bagi sosok beliau.  Dan kendati telah berpulang ke rahmatullah 36 tahun yang lalu, sang putra, Rusydi Hamka masih mengingat detail sosok Buya sebagai ayah penuh cinta, bukan hanya ulama berkharisma. Rusydi Hamka menuangkan kisah dan kenangannya dalam buku Pribadi dan Martabat Buya Hamka. [rst]

Kamis, 01 November 2018

25+ Puisi Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Puisi adalah suatu bentuk dalam karya sastra yang berasal dari hasil suatu perasaan yang di ungkapankan oleh penyair dengan bahasa yang  menggunakan irama, rima, matra, bait dan penyusunan lirik yang berisi makna.Di dalam puisi juga berisi suatu ungkapan perasaan dan pikiran dari penyair yang menggunakan imajinasinya. Kemudian ia berkonsentrasi untuk menyusun puisi dengan kekuatan bahasa, bai secara fisik maupun batin.
Sebuah puisi biasanya mengutamakan akan bunyi, bentuk serta makna yang terkandung untuk disampaikan. Keindahan pada puisi menjadi kualitas estetika yang begitu indah.
 

Hal-hal membaca puisi

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca puisi sebagai berikut:
  • Ketepatan ekspresi/mimik
Ekspresi adalah pernyataan perasaan hasil penjiwaan puisi. Mimik adalah gerak air muka.
  • Kinesik yaitu gerak anggota tubuh.
  • Kejelasan artikulasi
Artikulasi yaitu ketepatan dalam melafalkan kata-kata.
  • Timbre yaitu warna bunyi suara (bawaan) yang dimilikinya.
  • Dinamik artinya keras lembut, tinggi rendahnya suara.
  • Intonasi atau lagu suara.
Dalam sebuah puisi, ada tiga jenis intonasi antara lain sebagai berikut:
  1. Tekanan dinamik yaitu tekanan pada kata-kata yang dianggap penting.
  2. Tekanan nada yaitu tekanan tinggi rendahnya suara. Misalnya suara tinggi menggambarkan keriangan, marah, takjub, dan sebagainya. Suara rendah mengungkapkan kesedihan, pasrah, ragu, putus asa, dan sebagainya.
  3. Tekanan tempo yaitu cepat lambat pengucapan suku kata atau kata.


 Di situs pantun-puisi.web.id ini Merupakan kumpulan Berbagai contoh Puisi  dari puisi Baru maupun Puisi lama Berbagai Tema, Kumpulan Naskah Puisi Terbaik , Contoh Puisi Cinta Paling Romantis ,Kumpulan Contoh Puisi Pendek, contoh puisi, contoh puisi sumpah pemuda,contoh puisi balada, contoh puisi kemerdekaan, contoh puisi bebas ,contoh puisi ayah, contoh puisi alam, contoh puisi angkatan 30, contoh puisi agama, contoh puisi ayah dan ibu, contoh puisi aku, contoh puisi angkatan 20, contoh puisi agama islam, contoh puisi berantai, contoh puisi beserta unsur intrinsiknya, contoh puisi bahasa inggris, Koleksi Puisi,contoh puisi baru singkat, contoh puisi bidal, contoh puisi beserta pengarangnya, contoh puisi beserta maknanya, contoh bahasa puisi, contoh puisi b.inggris, contoh puisi b.jawa, contoh puisi b.sunda, contoh puisi b.inggris singkat, contoh puisi b.sunda singkat, contoh puisi b.arab, contoh puisi b.cirebon, contoh puisi cinta tanah air, contoh puisi cinta dalam diam, contoh puisi cinta romantis, contoh puisi cinta pendek, contoh puisi cita cita, contoh puisi cita cita menjadi polisi.,Puisi kontemporer,Puisi Cinta, Puisi Ibu , Puisi Guru, Puisi Pahlawan, Puisi Persahabatan,Puisi Romatis, Puisi Pendidikan,Puisi Bebas , contoh puisi pendek, contoh puisi bebas, contoh puisi ibu, contoh puisi cinta, contoh puisi pendidikan, contoh puisi sahabat, contoh puisi pendek tentang ibu , contoh puisi pendek untuk guru, Contoh Puisi Shabat ,Kumpulan Puisi Pendek Terbaru, Puisi Bebas, Puisi Cinta, Romantis, Sedih, Islami, Menyentuh Hati dll
 
 
 
Contoh Puisinya
 
 
 
Di Balik Seruan Pahlawan

Kabut...
Dalam kenangan pergolakan pertiwi
Mendung...
Bertandakah hujan deras
Membanjiri rasa yang haus kemerdekaan
Dia yang semua yang ada menunggu keputusan Sakral

Serbu...
Merdeka atau mati Allahu Akbar
Titahmu terdengar kian merasuk dalam jiwa
Dalam serbuan bambu runcing menyatu
Engkau teruskan Menyebut Ayat-ayat suci
Engkau teriakkan semangat juang demi negri
Engkau relakan terkasih menahan tepaan belati
Untuk ibu pertiwi

Kini kau lihat...
Merah hitam tanah kelahiranmu
Pertumpahan darah para penjajah keji
Gemelutmu tak kunjung sia
Lindunganya selalu di hatimu
Untuk kemerdekaan Indonesia Abadi

(Puisi Karya Zshara Aurora)

Untukmu Pahlawan Indonesiaku
Demi negeri...
Engkau korbankan waktumu
Demi bangsa...
Rela kau taruhkan nyawamu
Maut menghadang di depan
Kau bilang itu hiburan

Tampak raut wajahmu
Tak segelintir rasa takut
Semangat membara di jiwamu
Taklukkan mereka penghalang negri

Hari-hari mu di warnai
Pembunuhan dan pembantaian
Dan dihiasi Bunga-bunga api
Mengalir sungai darah di sekitarmu
Bahkan tak jarang mata air darah itu
Yang muncul dari tubuhmu
Namun tak dapat...
Runtuhkan tebing semangat juangmu

Bambu runcing yang setia menemanimu
Kaki telanjang yang tak beralas
Pakaian dengan seribu wangian
Basah di badan keringpun di badan
Yang kini menghantarkan indonesia
Kedalam istana kemerdekaan

Pemuda Untuk perubahan

Indonesiaku menangis
Bahkan Tercabik-cabik
Dengan hebatnya pengusaanya sang korupsi
Tak peduli rakyat menangis

Kesejahteraan jadi Angan-angan
Keadilan hanyalah Khayalan
Kemerdekaan telah terjajah
Yang tinggal hanya kebodohan

Indonesiaku, Indonesia kita bersama
Jangan hanya tinggal diam kawan
Mari kita bersatu ambil peranan
Sebagai pemuda untuk perubahan

(Puisi Karya Ananda Rezky Wibowo)

Pengorbanan

Mengucur deras keringat
Membasahi tubuh yang terikat
Membawa angan jauh entah kemana
Bagaikan pungguk merindukan bulan
Jiwa ini terpuruk dalam kesedihan

Pagi yang menjadi malam
Bulan yang menjadi tahun
Sekian lama telah menanti
Dirinya tak jua lepas

Andai aku sang Ksatria
Aku pasti menyelamatkanya
Namun semua hanya mimpi
Dirinyalah yang harus berusaha
Untuk membawa pergi dari kegelapan abadi

(Puisi Karya Siti Halimah)

Pahlawanku

Pahlawanku...
Bagaimana Ku bisa
Membalas Jasa-jasamu
Yang telah kau berikan untuk bumi pertiwi

Haruskah aku turun ke medan perang
Haruskah aku mandi berlumuran darah
Haruskah aku tersusuk pisau belati penjajah
Aku tak tahu cara untuk membalas Jasa-jasamu

Engkau relakan nyawamu
Demi suatu kemerdekaan yang mungkin
Tak bisa kau raih dengan tanganmu sendiri
Pahlawanku engkaulah bunga bangsa

(Puisi Karya Rezha Hidayat)

Indonesiaku Kini

Negaraku cinta indonesia
Nasibmu kini menderita
Rakyatmu kini sengsara
Pemimpin yang tidak bijaksana
Apakah pantas memimpin negara
Yang aman sentosa

Indonesiaku tumpah darahku
Apakah belum bangun dan terjaga
Pemimpin yang kita bangga
Apakah rasa kepemimpinan itu,
Masih tersimpan di nurani
Dan tertinggal di lubuk hati

Rakyat membutuhkanmu
Seorang khalifatur Rasyidin
Yang setia dalam memimpin
Yang menyantuni fakir miskin
Mengasihi anak yatim

Kami mengharapkan pemimpin
Yang sholeh dan solehah
Menggantikan tugas Rasulullah
Seorang pemimpin Ummah
Yang bersifat Siddiq dan Fatanah

Andai aku menemukan
Seorang pemimpin dunia
Seorang pemimpin negara dan agama
Seorang pemimpin Indonesia ku tercinta
Allah maha mengetahui dan yang mengetahuinya

(Puisi Karya Awaliya Nur Ramadhana)

Pupus Raga Hilang Nyawa

Napak tilas para pahlawan bangsa
Berkibar dalam syair sang saka
Berkobar dalam puisi indonesia
Untuk meraih Cita-cita merdeka

Napak tilas anak bangsa
Bersatu dalam semangat jiwa
Bergema di jagat nusantara
Untuk meraih prestasi dan karya

Merdeka...
Kata yang penuh dengan makna
Bertahta dalam raga pejuang bangsa
Bermandikan darah dan air mata

Merdeka...
Perjuangan tanpa pamrih untuk republik tercinta
Menggelora di garis khatulistiwa
Memberi kejayaan bangsa sepanjang masa

Merdeka...
Harta yang tak ternilai harganya
Menjadi pemicu pemimpin bangsa
Untuk tampil di Era dunia

Bambu Runcing

Mengapa engkau bawa padaku
Moncong bayonet dan sangkur terhunus
Padahal aku hanya ingin merdeka
Dan membiarkan Nyiur-nyiur derita
Musnah di tepian langit

Karena kau memaksaku
Bertahan atau mati
Dengan mengirim ratusan Bom
Yang engkau ledakkan di kepalaku
Aku terpaksa membela diri

Pesawat militermu jatuh
Di tusuk bambu runcingku
Semangat perdukaanmu runtuh
Kandas di Batu-batu cadas
Kota Surabaya yang panas

Untuk Pahlawan Negeriku

Untuk negriku...
Hancur lebing tulang belulang
Berlumur darah sekujur tubuh
Bermandi keringat penyejuk hati

Ku rela demi tanah airku
Sangsaka merah berani
Putih nan suci
Melambai-lambai di tiup angin
Air mata bercucuran sambil menganjungkan do'a
Untuk pahlawan negri
Berpijak berdebu pasir
Berderai kasih hanya untuk pahlawan jagat raya
Hanya jasamu yang bisa ku lihat
Hanya jasamu yang bisa ku kenang
Tubuhmu hancur lebur hilang entah kemana
Demi darahmu...
Demi tulangmu...
Aku perjuangkan negriku
Ini Indonesiaku

Bintaro

Seabadkah pesonamu dulu
Murkakah landasan nuranimu
Kau tampar senyuman manisku
Dan kau dengungkan pesona indah nadamu

Bintaro
Belum cukupkah kau tinju kami
Belum puaskah kau tertawakan kami
Atau ini hanya sandiwara cerita petinggimu

Bintaro
berjuta jiwa hilang dalam gerammu
Berjuta jiwa menangis dalam penakmu..

Hendra

Jejak-Jejak Pejuang

Jejak-jejak para pahlawan bangsa
Semerbak harum dalam deretan syair pujangga
Bercerita indah akan kisah perjuangan
Sang pahlawan dalam membela bangsa

Meregang nyawa di medan peperangan
Raga berlubang tertembus peluru tajam
Meski tersungkur tergeletak di tanah
Kau tetap hidup dalam sanubari anak bangsa

Jejak-jejak para pahlawan bangsa
Menapak jelas menembus zaman
Kini kaupun mampu menyaksikan dari surga
Bangsamu bersatu padu dalam semangat membela

Serdadu Tak dikenal

Kau ambil seragam lusuh di bilik kamarmu
Kau kenakan dengan sangat rapi
Meski dirimu kini tak dikenal
Namun semangat juangmu terasa hingga menembus batas zaman

Kau siapkan senapan dengan peluru tajam
Dengan gagah kau maju di barisan depan
Menjadi biduk dalam strategi perang
Tak jarang dirimu menjadi umpan kemenangan

Dengan gagah berani kau merangsek manju ke barisan depan
Hingga tak kau sadari sebuah peluru tajam menerjang
Meski kau tak dikenal
Perjuanganmu takkan akmi lupakan

Kerinduan Pertiwi

Ibu pertiwi kini berlinangan air mata
Menyaksikan hasil perjuangan yang tak terperi
Diinjak-injak oleh generasi terkini
Siapa hati yang tak pilu karenanya

Tanah airmu mengering
Tak lagi terbasahi darah perjuanganmu
Yang dahulu meresap ke dalam tanah airmu
Kini gersang tak berkehidupan

Kau saksikan negerimu kini
Mengaduh keluh kesah tak terperi
Menanti perjuanganmu kembali
Wahai pahlawan sejati

Pahlawan yang Hilang

Dimana lagi kan kutemukan keberanianmu
Dimana lagi kan kutemukan pekik teriak semangatmu
Dimala lagi ku temukan sosok sepertimu
Wahai pahlawan

Beribu hari telah kulalui
Jutaan hari telah kuhitung dengan jemari
Namun tak mampu jua kutemukan
Sosok pahlawan sejati

Kumeniti jalanan penuh onak dan duri
Menyusuri gurun pasir yang kering kerontang
Dimanakah kan kutemui lagi
Sosok sepertimu wahai pahlawanku

Satu Kata Merdeka

Suara derap langkah sepatu besar terdengar hingga seantaro medan perang
Kau berbegas maju menghardik musuh dengan garang
Sepucuk pistol kau bidikkan ke arah lawan
Hingga musuh tumbang tak mampu lagi bertolak pinggang

Kau fokuskan kedua matamu pada musuh
Dengan sigap kau arahkan lagi pistolmu ke arah tentara penjajah
Namun sayang, desiran granat meledak dahsyat
tepat di depan langkahmu terakhirmu

sang pahlawan terguncang degan dahsyat
tubuh tercabik berlumuran darah merah
wajahmu hampir-hampir tak lagi dapat dikenali
disaat terakhirmu kau bisikkan satu kata terindah yakni “merdeka”

Kenangan di Saat Perang

Saat-saat memilukan pada masa perang itu
Para penjuang gigih bertempur di medan laga
Desingan peluru terngiang-ngiang ditelinga
Hingga mampu menghentakkan jiwa-jiwa yang lemah

Saat-saat menegangkan ketika perang itu
Para serdadu di garis depan berlari
Menenteng senapan dan bambu runcing
Mencoba berjuang merebut asa

Saat-saat genderang perang ditabuhkan
Para tentara rakyat merangsek maju melawan penjajah
Dentuman ledakan tak lagi dihiraukan
Demi satu kata yang diperjuangkan, “merdeka”

Sepenggal Kisah Pejuang

Saat kisah-kisah perjuangan
Serta cerita heroik penuh patrotis diperdengarkan
Oleh lisan-lisan para veteran perang
Saat itu pula hati terbakar seolah ingin ikut berjuang

Ketika legenda-legenda tentang penjajah
Serta kekejaman dalam penjajahan diperdengarkan
Oleh lisan-lisan para veteran perang
Saat itu pula hati membenci dengan segala perasaan tak rela

Cerita tentang para pejuang
Melawan para penjajah
Membekas di hati dan membangkitkan rasa di hati
Akan kecintaan kepada negeri

Pahlawan yang Terbuang

Dari negeri seberang aku manyapamu
Di tanah pengasingan aku terbuang
Seorang pejuang perang yang terasingkan
Dalam deru debu peperangan kemerdekaan

Duhai saudaraku sebangsa di tanah air
Aku menyapamu dalam dekapan cinta
Serta rasa bangga dan semangat perjuangan
Meski kini daku berada di pengasingan

Mungkin saja akhir hidupku hanyalah berada pada hitungan detik saja
Mati membusuk di pengasingan ini
Kutitipkan semangat juang ini
Kepada mu kawan di medan peran 
 
 

Pahlawan dari Masa Lalu

Kulihat dari kejauhan
Kibaran panji-panji merah putih menyapa
Seolah mengajak diri untuk ikut berjuang
Namun apalah daya raga tak mengizinkan

Teringat akan sebuah pengalaman masa lalu
Pada saat diri ini berlari ke garis depan
Mengangkat senjata menghardik lawan
Hingga kaki tertembak peluru tajam

Peperangan di masa lalu
Kini membuatku duduk lemah tak berdaya
Menyaksikan rekan sedang berjuang
Tersisa sudah rasa bangga dalam ketidakberdayaan 
 
 

Antara Keadilan dan Ketidakadilan

Desingan peluru saling beradu
Dentuman suara meriam saling menyahut
Ledakan dari kejauhan menggelegar keras
Menandakan adanya pertarungan dahsyat

Pertarungan dahsyat yang kini terjadi
Antara keadilan dan ketidakadilan
Siapakah yang menjadi pemenangnya
Tak ada yang tahu hingga hasil pertarungan diketahui

Para pejuang kemerdekaan serta penjajah bangsa menjadi aktor utamanya
Sebuah bendera berkibar dengan gagahnya sebagai pertanda kemenagan
Bendera dengan warna merah dan putih
Pertanda kemenangan bangsa Indonesia ini

Bambu Runcing yang Terhunus

Bambu runcing tegak menantang kedzaliman
Menantang meriam besar penuh kesombongan
Keangkuhan akan kekuatan
Lagi-lagi mencoba merampas sebuah kebebasan

Bambu runcing terhunus menagih darah
Darah siapakah gerangan yang akan memuaskannya
Pucuk tajam itu sangat ingin menumpas
Segala kedzaliman dan angkara murka para penjajah

Bambu runcing dengan tegak menantang kulit putih
Bersenjatakan bedil dan meriam besar
Namun ternyata mampu terkalahkan oleh sebilah bambu
Yang terlahir dari semangat keadilan dan persatuan

Kemerdekaan ini
Karya: Rayhandi

Kemerdekaan ini adalah usaha
Usaha tanpa menyerah para pahlawan

Kemerdekaan ini adalah keringat
Yang setia mencucur ruah hingga habis

Kemerdekaan ini adalah lelah
Lelah yang setia menghantu

Kemerdekaan ini adalah darah
Karena berjuta ton darah raib untuk kemerdekaan, tergadai

Kemerdekaan ini adalah nyawa
Karena di indonesia ini beratus ratus tahun silam nyawa melayang

Semuanya untuk indonesia
Semuanya untuk senyum anak indonesia
Semuanya untuk masa depan indonesia yang lebih cerah.


Terbanglah Indonesia
Karya: Rayhandi

Terbanglah indonesia
Terbang ke langit bebas
Gapai bintang hingga jauh melambung
Tunjukkan pada dunia merah putihmu

Terbanglah indonesia
Takkan ada yang bisa mengikatmu
Juga mengurungmu
Kita bukan jangkrik di dalam kotak
Kita bebas merdeka

Terbanglah indonesia
Terbanglah kemana kau ingin terbang
Lihatlah kemana kau ingin lihat
Cintailah apa yang kau ingini
Kebebasan bersandar di raga kita
Karena kita merdeka

Terbanglah indonesia
Dunia harus tahu indonesia bangsa yang hebat
Bangsa yang menghargai perdamaian
Tapi bukan berarti bisa diam jika kebebasan kita di renggut
Takkan kita biarkan hak kita di injak injak.

Terbanglah indonesia
Di ujung samudera kedamaian kita memuncah
Berdiri di atas gunung
Kita jaga laut kita kita jaga bumi kita
Takkan kita biarkan indonesia hancur kembali
Karena indonesia sudah merdeka di tahun empat lima.

20+ Kumpulan Contoh Puisi Bahasa Jawa Terbaik Saat Ini

Puisi adalah suatu bentuk dalam karya sastra yang berasal dari hasil suatu perasaan yang di ungkapankan oleh penyair dengan bahasa yang  menggunakan irama, rima, matra, bait dan penyusunan lirik yang berisi makna.Di dalam puisi juga berisi suatu ungkapan perasaan dan pikiran dari penyair yang menggunakan imajinasinya. Kemudian ia berkonsentrasi untuk menyusun puisi dengan kekuatan bahasa, bai secara fisik maupun batin.
Sebuah puisi biasanya mengutamakan akan bunyi, bentuk serta makna yang terkandung untuk disampaikan. Keindahan pada puisi menjadi kualitas estetika yang begitu indah.
 

Hal-hal membaca puisi

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca puisi sebagai berikut:
  • Ketepatan ekspresi/mimik
Ekspresi adalah pernyataan perasaan hasil penjiwaan puisi. Mimik adalah gerak air muka.
  • Kinesik yaitu gerak anggota tubuh.
  • Kejelasan artikulasi
Artikulasi yaitu ketepatan dalam melafalkan kata-kata.
  • Timbre yaitu warna bunyi suara (bawaan) yang dimilikinya.
  • Dinamik artinya keras lembut, tinggi rendahnya suara.
  • Intonasi atau lagu suara.
Dalam sebuah puisi, ada tiga jenis intonasi antara lain sebagai berikut:
  1. Tekanan dinamik yaitu tekanan pada kata-kata yang dianggap penting.
  2. Tekanan nada yaitu tekanan tinggi rendahnya suara. Misalnya suara tinggi menggambarkan keriangan, marah, takjub, dan sebagainya. Suara rendah mengungkapkan kesedihan, pasrah, ragu, putus asa, dan sebagainya.
  3. Tekanan tempo yaitu cepat lambat pengucapan suku kata atau kata.


 Di situs pantun-puisi.web.id ini Merupakan kumpulan Berbagai contoh Puisi  dari puisi Baru maupun Puisi lama Berbagai Tema, Kumpulan Naskah Puisi Terbaik , Contoh Puisi Cinta Paling Romantis ,Kumpulan Contoh Puisi Pendek, contoh puisi, contoh puisi sumpah pemuda,contoh puisi balada, contoh puisi kemerdekaan, contoh puisi bebas ,contoh puisi ayah, contoh puisi alam, contoh puisi angkatan 30, contoh puisi agama, contoh puisi ayah dan ibu, contoh puisi aku, contoh puisi angkatan 20, contoh puisi agama islam, contoh puisi berantai, contoh puisi beserta unsur intrinsiknya, contoh puisi bahasa inggris, Koleksi Puisi,contoh puisi baru singkat, contoh puisi bidal, contoh puisi beserta pengarangnya, contoh puisi beserta maknanya, contoh bahasa puisi, contoh puisi b.inggris, contoh puisi b.jawa, contoh puisi b.sunda, contoh puisi b.inggris singkat, contoh puisi b.sunda singkat, contoh puisi b.arab, contoh puisi b.cirebon, contoh puisi cinta tanah air, contoh puisi cinta dalam diam, contoh puisi cinta romantis, contoh puisi cinta pendek, contoh puisi cita cita, contoh puisi cita cita menjadi polisi.,Puisi kontemporer,Puisi Cinta, Puisi Ibu , Puisi Guru, Puisi Pahlawan, Puisi Persahabatan,Puisi Romatis, Puisi Pendidikan,Puisi Bebas , contoh puisi pendek, contoh puisi bebas, contoh puisi ibu, contoh puisi cinta, contoh puisi pendidikan, contoh puisi sahabat, contoh puisi pendek tentang ibu , contoh puisi pendek untuk guru, Contoh Puisi Shabat ,Kumpulan Puisi Pendek Terbaru, Puisi Bebas, Puisi Cinta, Romantis, Sedih, Islami, Menyentuh Hati dll
 
 
 
Contoh Puisinya
 



Kanggo Kanca

Biyen, tanganmu genggem tanganku
Biyen, pundakmu enek kanggo aku nangis
Biyen, guyumu nentremke atiku

Nanging saiki….
Tangan, pundak, guyumu ilang saka uripku
Kanca-kancaku kabeh,bayangna
Apa sajatining kahanan sajroning dunya

Yen ora ana welas lan asih
Ora ana uga kekancanan tanpa pamrih
Ing sakjroning manah atiku
Aku ngrasakna kepengin ngamuk wektu iku

Kanca lan kancaku
Elinga rasa atiku iki
Jaganen rasaning welas asih iki

Ibu

Ibu
anakmu kang dak wanti wanti
Kang dak kawatirake
Kak kok titipake ana pawiyatan luhur iki
Iki anakmu
Kang durung isa nyenengke ibu
Kang durung bisa nyenengke keluarga
Kang isih dadi tanggunganmu ibu
Nanging ibu
Anakmu iki bakal banggakke ibu
Banggakke keluarga kabeh
Anakmu rak bakal nyerah bu
Kanggo nyekel lintang ana langit
Kang kadhang ditutup mendhung
Kang kadhang mripat wae wis ora bisa weruh
Nanging anakmu iki janji ibu

Gusti

Gusti…
Dalem namung tiyang kang lemah
Kang boten saged mlampah piyambak
Gusti…
Dalem namung tiyang ingkang gampil gripil
Tansah kegoda kesenengan donya
Gusti…
Hamung siji panyuwunku
Tuntun dalem wonten ing margi kang padhang gusti
Duh Gusti…

Lintang Panjer Rahina

Nalika bumi isih sepi
Lintang panjer rahina wis tangi
Menehi Pepadhang sagung dumadi
Kang wiwit gumregah ngupaya rejeki
Para among tani wis ndalidir mecaki galengan
Mbok bakul sinambiwara wus sengkut makarya
Para ngulama tumungkul mengestu puja
Para santri wiridan ngaji
Jago kluruk sesautan
Melu tasbeh marang pangeran
Ndonya wis gagat rahina
Maringi kalodhangan janma ngupadi pangupajiwa

Tresna

Tresna kuwi sepele
Tresna kuwi ya kowe karo aku
Tresnamu kaya surya
Nanging ya kaya samudra
Tresnamu bisa nekakake mega
Nanging saiki tresnamu kaya dahana
Awit aku mbok tinggalna
Langit data peteng
Ora ana candra apa maneh kartika
Atiku kaya bawana sing lemahe nela-nela
Maruta, kandhakna yen aku isih tresna

Sing Ilang Ben Ilang

Saupamane ngerti isine atiku…
Ra bakalan kowe ngilang
Kaya pedhut kang kasaput srengenge
Kaya bun netes siya-siya ing lemah garing
Nambah eluhku nelesi pipiku…
Kabeh wus ora kena digetuni,
Sebab jodho rejeki lan pati…
Wis digarisake dening Gusti Kang Maha Kuwasa
Sing ilang ben ilang…
Ra bakal dak gayuh maneh
Cukup sakmene kanggo riwayat
Kanggo sasine lelakon urip,
kowe lan aku kudu nrima legawa

Jodhoku

Sliramu sing saiki tak tresnani
Apa ya sliramu…?
Sing arep ngerteni aku salawase
Apa ya sliramu?
Sing arep njaga aku salawase
Apa ya sliramu?
Sing arep nuntun aku marang dalan kang becik
Apa ya sliramu?
Sing arep melu ngrasakake bungah lan rekasaku
Apa ya sliramu?
Sing sesuk arep dadi kanca uripku
Dhuh Gusti
Paringana pitedah kanggo aku
Apa iya iki jodhoku?

Tandha Katresnan ku

Wiwit kok tulisake tresna iku
Manuk-manuk kepodang padha geguyonan
Ing pang-pang godhonge waru
Ijo enom lelagone langit biru
Srengenge isuk kang mlethek ing ati sumunar
Martakake dhina bakal ora kamendungan

Wiwit kok kandhak’ake tresna iku
Liwat kali dhak kintirake prau godhong pring
Amrih bisa lelayaran aneng segaranining atimu
Apepayon langit ing pucuking alun
Banjur dak tunggu tekane nggawa warta

Wiwit kok kidhungake tresna iku
Apa aku kudu lumaku sadhuwure angin lan segara
Njupuk kembang srengenge kang mlethek
Banjur dak slempitake ing kupingmu
Kareben nambahi brantaning ati

Sanjerone ati iki,Yayi
Ana panandhang,kirane mung kowe kang bisa mangerteni
Liwat getering angin kang sumilir
Sadawaning laku lan sepi tak ceritakake

Yen ta… samengko bakal NYAWIJI.

Aku Duwekmu Wengi Iki

Lumakuku kaya ngawang
Ngawang-ngawang nggayuh lintang
Mecaki dalan kasusahan

Apa Sejatine?
Kang ngganjel ing njero manahmu?

Tegese luh kang tumetes ing pipimu
Nglebur nyawiji ing swasana
Kang sejatine durung bisa gawe aku lan sliramu
Mesem bebarengan
Crita marang aku

Senajan ora mesthi bisa mungkasi
Lilakna aku andum donyamu
Kang kebak dening kaendahan
Sing durung kasunyatan

Aku duwekmu wengi iki
Iki ragaku
Iki sukmaku
Aku lila disiksa
Nganti ora ana sisa

Sekolahku

Sekolahanku…
Panggonan anggonku golek ilmu
Sekolahanku…
Diwulang dening Bapak-ibu Guru

Sekolahanku…
Sinau, maca buku
Ing Panggonan iki
Aku diajari supaya karo wong tuwaku kudu bekti

Ing panggonan iki
Aku diajari marang kanca aja srei
Diparingi PR kanggo gladhen
Kanggo sangu urip ing tengahing bebrayan

Aku percaya…
Sanajan abot kudu dilakoni
Kabeh mau kanggo kepentingan pribadhi
kareben ngesuk dadi wong kang aji
miguna tumprap bangsa lan nagari

Reuni
(Djoko Waluyo)

Sawise lawas pisah
Ketemu wis padha dadi simbah
Rambut-rambut putih, pasuryan padha malih
Pethuk gapyuk rerangkulan nyuntak sakehing rasa kapang
Ati trenyuh mripat kekembeng luh

Wor suh karo rasa bungah
Guyu-guyu renyah kaya nalika isih bocah
Dhek biyen nate dadi sakukuban
Njur padha pisah dalan, nepusi lelakone sowang-sowang

Lungit angelangut, lam-lamen jaman kesaput pedhut
Nganti wancine srengenge dhoyong ngulon
Beja, dene isih bisa sapatemon
Dhuh Gusti ingkang Maha mirah
namung saged muji Syukur Alhamdulillah
Gene isih menangi kumpule balung pisah

Arti Tekamu
(Putri Mulyasari)

Ing petenge arah lan langkahku iki
Panjenengan dados srengenge kangge uripku
Menehi sumunar cahya kanggo kabeh pengarepan
Panjenengan madhangi lurung-lurung kang buntu
Liwat sorotan cahya kang metu saka swara lan tuturmu

Ing kelas kang ayem tentrem iki
Aku nangkep artine panguripan
Mung marang panjenengan gegayuhan dipun taruhaken
Lan marang panjenengan pengarep kang luwih becik
Panjenengan Kang nemtokake nasib bangsa Paduka
Boten mokal kagem panjenengan
Mujudake generasi emas bangsa kang gemebyar ing pepeteng

Saben dina panjenengan nindakake kagiyatan mulya iki
rasa sabar uga rasa ikhlas ndampingi saben dina
sakabehe ing donya ora bisa mbales jasamu
yaiku jasamu kang iso nggawe bintang ing pepeteng
kita ora bisa ngganti jasamu karo opo bae
Nanging, kita bakal nggawe panjenengan bangga
Jasamu bakal kita pangeti sajrone uripku
bakal kita pengeti ing sajroning ati
lan ora bakal lebur dening puteran wektu

matur nuwun sanget, guru ingkang kula tresnani
Tanpa panjenengan bakal peteng ……
lan amarga panjenengan urip dadi migunani

Pamulangan
(Budhi Setyawan)

Jare simbah aku kudu sekolah
Kareben dadi bocah genah mrenah ora nggladrah

Jare rama ibu aku kudu sregep mangkat
Kareben dadi wong pangkat urip ora kesrakat mlarat

Jare bapak ibu guru aku kudu sinau
Tambah ilmu
Kareben kelakon kabeh kang tinuju

Nanging
prakanca, ….

coba delengen kahanan nyata
apa isih bisa pamulangan kang ana dadekake urip tumata
pamulangan kang tanpa tuladha
pamulangan kang kasatan piwulang
pamulangan kang ngajarake angka-angka wuta
siji lan siji ana pira?
Jare anut kang duwe kersa
Jan ora weruh subasita, trapsila, apa maneh tata krama
lali dosa…
kabeh lurung binarung kumalungkung
pamrih pamuji siji
Pamulangan ora aweh pepadang
Simbah,
Nyuwun pangapunten
Kula mboten kepingin dados dokter
Jalaran duite bapak mboten wonten sakoper

Rama,
Nyadong duka
Kulo mboten kapilut drajat pangkat
Jalaran ajrih sumpahing rakyat
Kang panggah mlarat sekarat

Bapak ibu guru,
Nyuwun donga pangestu
Mugi-mugi sedaya ilmu saged dados sangu

Arga Iki
(Siswidiadi Ngesti N)

Mataun-taun
Sira ngrusak geger lan awakku
Makaping-kaping
Landhepe bendho lan pacul

Nyigar lemah subur dadi larik-larik tandur
Pokalmu mblandhong sapenak dhengkul…
Lemah ijo wis malih gundhul
Tirta musna ing mangsa ketiga

Ninggal belik nalika paceklik
Jare wadhuk dadi alesan
Ora bakal ana rampunge
Nadyan donya pisan
Denuntal sakabehe…

Yoh
Entenana
Yen tekan titi mangsa
Arga iki nagih prasetya…


Esuk Iki
(Ariesta Widya)

Angin pancen sumilir ngrajut awak
Nanging mau bengi hawane nggodha angen
Kumepyur grimis ngruwis nggawa pengarep
Mengko udan ngadhemi bumi sing ngrantu

Woh, woh, medhot rasa gumawang
Lebu sing tumemplek lumahing godhong
Durung owah gambarane

Jago kluruk sesautan ora miyak cahya srengenge
Kaya padatan njalari donya iki tangi
Donya peteng ora kawiyak sunar padhang
Ing bang wetan ngranuhi sesawangan

Kepara saiki krasa kulit anyep
Kesiram angin playon nerak-nerak sak karepe
Isih binareng thathit gumerit nyigar keteg dhadha
Gordhin jendhela mobat-mabit sesalaman

Kleyang-kleyang godhong ing ngarepan
Mudal-mudal gumlethak ngebaki plataran
Godhong blimbing, jambu Bangkok, blimbing wuluh
Mosak-masik ing plataran ora kumanan kentekan semen
Got paving urunan warga gumlesah larahan pasar

Esuk iki kosok balen karo mau bengi
Panas sing sumeblak diwiyak angin adhem mabit
Njalari angin keplantrang miyaki jaman
Sing teka ora kinira miyak donya
Apa iki sasmita lumahing donya kurebing langit
Aweh panyendhu marang manungsa
Esuk lan sore singgeting dina rahina
Wengi nggarit ati miyaki leladi iku wis pinasthi
Aja ngowah-owahi lakuning lintang ing akasa
Iku luwih prayoga

Kidung Wengi
(Hadi Pamungkas)

Wengi wis lumingsir jero
Cahyane sang candra katon surem
Tumiyung mangulon mapag tekane gagat raina
Kahanan katon tintrim

Mung swarane jangkrik sesahutan ngumbar lelagon
Kala-kala jegoge asu sing mecah wengi
Jalma manungsa wus padha lerem ing pangimpen
Nepsu-nepsu panguripan uwal saka nala

Gumanti impen-impen kang endah mbuntel panjangka urip
Mung kemrosake manuk codhot nrusuk ing pang-pang wit pelem
ngluru woh-wohan nggo ngganjel weteng
Sakwuse sawengi natas ngancani sepining bawana
Swarane jago kluruk padha pamer swara
Minangka pratandha yen bagaskara bakal tumeka

Cahya warna abang rampak-rampak
Pratandha ngjak jalma miwiti makarya
Ngobahake raga
Ngudi rejeki ngluru pangupajiwa
Sakwuse madhep kiblat
Ing tengahing pedhut manjing subuh
Nyeyuwun nugrahaning kang Maha Rat

Kluwung
(Soewardi Baroto Martono)

Ora katon garising kikismu
Nadyan wilangane tinemu
Oncating citramu, ambabar banyu
Tuhu agung kersane Gusti
Riris … grimis endah dinulu
Agawe menebing lebu
Mahanani segering banyu

Ora geseh, eseme anuju prana
Tansah gawe brantaning driya
Ora kapiyarsa wuwuse wacana
Rinengga endahing solah bawa
Andelidir ponang kintaka
Binarung kidung asmara

Iba mulya raharja, rasaku
Datan ana kang ngreridu
Rinonce kehing wanodya yu
Andum prasetya tuhu
Woh aren …, asung pepeling
Endahing citramu, boya sumandhing
Ora beda ngendikaning biyung
Sliramu … andha widhodari … ya kluwung

Sendhang Tirta Panggesangan
(S.Wignya Raharja)

Kinclong, klimpah-klimpah, kumricik ilining toya
pating sliri tawes, wader pari dalasan anggang-anggang
sedaya memuji mring Hyang Widhi
Tanpa sih Paduka Gusti
Dados punapa awak mami?

Widodari kayangan sami lelumban
Tumurun madyaning sendhang
Jamas, reresik tan emut ing wanci
Kamanungsan si Tarub
Segering tirta sendhang dadya panjanging yuswa
saiba bombong kula nyumurupi
sesami titahing Gusti anjagi lestari

punapa boten rumaos
punapa sampun wuta tyasira
kutu-kutu walang ataga sami sun cawisi
kantho lelahanan tanpa nyulihi
ngantos telas tan nyisa kula legawa

nanging geneya?
kori kula kasumpet aspal
beton, ngantos nduwa margi kula
kados pundi punika Gusti?
nyingkur kawula, Gusti …

Sok sintena ingkang mireng pisambat kawula
keparenga paring marga
satemah boten namung kabuncang muspra
kepara damel kasangsaran dhumateng manungsa
kula kapang dados sendhang tirta panggesangan

Pahlawanku

Pahlawanku
Wutahing ludirmu
Nyiram ibu pertiwi
Nadyan sang ibu
Kudu muwun sedhih
Karajang-rajang manahe
Karujit-rujit rasa pangrasane

Pahlawanku
Mugya Gusti paring nugraha
Semana gedhene bektimu
Jiwa raga, bandha donya
Tanpa sisa
Amung siji pangajabmu
Merdika

Kartini

Kartini …
Sapa kang ora kenal panjenengan
Pahlawan kang mbela kaum wanita
Pahlawan kang berjuwang nentang paugeran walanda

Kartini …
Sanajan tinitah dadi priyayi
Duweni trah bangsawan
Kartini mbela emansipasi wanita
Mbela rakyat jelata

Kartini …
Wulan April iki dadi seksi
Lelabuhanmu kang misuwur tumrap bangsa Indonesia
Habis Gelap Terbitlah Terang
Dadi bukti masa perjuwangan
Kutha Jepara dadi papan panggonan ngukir sejarah wanita

Kartini …
Amarga jasamu
Wanita eropa lan wanita pribumi
Dadi duweni hak kang padha
Duweni hak pikantuk pendidikan